SURVEILANS EPIDIEMIOLOGI

SURVEILANS PENYAKIT MENULAR DAN PENYAKIT TIDAK MENULAR ( YANG TERPILIH )

SURVEILANS :

Pengamatan secara terus-menerus terhadap perkembangan kasus penyakit menular dan penyakit tidak menular tertentu yang terpilih serta kejadian yang berpotensi menimbulkan bencana dalam upaya antisipasi terhadap adanya kejadian luar biasa ( KLB ) serta faktor resiko perilaku dan lingkungan yang berhubungan dengan penyakit menular, penyakit tidak menular dan kejadian lain yang berpotensi menimbulkan KLB.

PROGRAM DAN KEGIATAN

· Terdiri dari kegiatan :

a. Pengamatan penyakit menular dan penyakit tidak menular tertentu yang terpilih, sebagai upaya sistem kewaspadaan dini KLB, antara lain :

1) AFP ( lumpuh layuh mendadak ), untuk mengantisipasi adanya KLB Polio.

2) PD3I ( penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, misalnya tetanus pada bayi usia <1 bulan, Campak, Hepatitis B, Diptheri, Pertusis).

3) Kanker, Hipertensi, Jantung Koroner, Diabetes Melitus.

4) Diare, TBC, DBD, Flu Burung, dan penyakit lain yang berpotensi KLB.

b. Kesehatan matra ( pemeriksaan kesehatan haji dan pemantauan penyakit jamaah haji).

c. Penanggulangan KLB penyakit menular, penyakit tidak menular, keracunan, bencana alam dan musibah massal lainnya.

· Definisi dan uraian kegiatan :

a. AFP ( accute Flaccid Paralysis )

Ø AFP dalam bahasa yang lebih mudah dipahami adalah semua penyakit yang mempunyai gejala lumpuh layuh yang bersifat mendadak, tanpa didahului oleh ruda paksa ( kecelakaan dan trauma lainnya ).

Ø Tujuan surveilans AFP adalah untuk membuktikan bahwa penyakit dengan gejala lumpuh layuh tersebut bukan disebabkan oleh virus Polio liar, yang diketahui dari hasil pemeriksaan spesimen tinja kasus di Balai Laboratorium Kesehatan Surabaya.

Ø Sasaran program surveilans AFP adalah kasus lumpuh layuh mendadak pada anak usia dibawah 15 tahun. Target penemuan kasus AFP sesuai standard SPM adalah 2 per 100.000 anak usia < 15 tahun. Untuk Kabupaten Banyuwangi target sasaran sebanyak 8 kasus setiap tahunnya.

Ø Semua kasus AFP harus dilaporkan secara dini ( kurang dari 14 hari kelumpuhan ) agar dapat segera diambil spesimennya dan dilakukan pemeriksaan spesimen di laboratorium.

Ø Pada setiap kasus AFP harus diambil 2 spesimen tinja dengan ukuran sebesar ibu jari orang dewasa dan dengan interval pengambilan minimal 24 jam. Penatalaksanaan spesimen tinja adalah disimpan dalam suhu 2 – 8°C di spesimen carrier dan dikirimkan ke BLK Surabaya untuk dilakukan konfirmasi laborat.

Ø Penatalaksanaan kasus sesuai dengan jenis penyakit dan diagnosa yang ditetapkan oleh dokter.

b. PD3I ( Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi )

Ø Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi terdiri dari :

a. Hepatitis B, dapat dicegah dengan imunisasi HB ( pada usia < 7 hari ) dan DPT/HB.

b. TBC, khususnya TB pada anak, yang dapat dicegah dengan imunisasi BCG.

c. Diptheri, dapat dicegah dengan imunisasi DPT/HB dan DT.

d. Pertusis, dapat dicegah dengan imunisasi DPT/HB.

e. Tetanus, dapat dicegah dengan imunisasi DPT/HB pada sasaran bayi, DT pada sasaran kelas 1 SD, TT pada sasaran kelas 2 dan kelas 3 SD serta TT pada wanita usia subur ( WUS ).

f. Poliomyelitis, yang dapat dicegah dengan imunisasi Polio.

g. Campak, dapat dicegah dengan imunisasi Campak.

Ø Hepatitis B

ü Penyakit yang disebabkan oleh virus Hepatitis B yang merusak hati.

ü Gejala infeksi klinis akut adalah merasa lemah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu. Urine menjadi kuning, tinja berwarna pucat. Warna kuning tampak pula pada mata atau kulit. Infeksi pada anak seringkali tidak menimbulkan gejala.

ü Penyakit yang kronis dapat menimbulkan Cirrhosis hepatis, kanker hati dan kematian.

ü Penularan melalui suntikan yang tidak aman, transfusi darah, dari proses persalinan dari ibu menular pada bayi yang dilahirkan, dan melalui hubungan seksual.

Ø TBC ( tuberculosis )

ü Penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa.

ü Penularan melalui pernapasan lewat bersin, atau batuk.

ü Gejala awal penyakit adalah lemah badan, penurunan berat badan, demam dan keluar keringat malam pada malam hari. Gejala selanjutnya adalah batuk terus menerus, nyeri dada dan bisa juga batuk darah. Gejala lain tergantung pada organ yang diserang. Pada anak-anak, TB sering menyerang kelenjar dan tulang belakang. Tuberculosis juga dapat menyebabkan kematian.

Ø Diptheri

ü Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae.

ü Penularan melalui kontak fisik dan pernapasan.

ü Gejala awal penyakit adalah radang tenggorokan, hilang napsu makan dan demam ringan. Dalam 23 hari timbul selaput putih kebiru-biruan pada tenggorokan dan tonsil. Diptheri menimbulkan komplikasi berupa gangguan pernapasan yang berakibat kematian.

Ø Pertusis

ü Penyakit yang dikenal dengan istilah batuk rejan atau batuk 100 hari. Disebabkan oleh Bordetella pertussis.

ü Penularan melalui tetesan-tetesan kecil yang keluar dari batuk atau bersin.

ü Gejala penyakit adalah pilek, mata maerah, bersin, demam dan batuk ringan yang lama-kelamaan batuk akan menjadi parah, dan menimbulkan batuk menggigil yang cepat dan keras. Komplikasi pertusis adalah pneumonia bacterialis yang dapat menyebabkan kematian.

Ø Tetanus

ü Penyakit yang disebabkan kuman Clostridium tetani yang menghasilkan neurotoksin.

ü Penyebaran tidak melalui orang ke orang, tetapi melalui kotoran yang mengandung kuman yang masuk ke dalam luka yang dalam.

ü Gejala awal penyakit adalah kaku otot pada rahang, disertai kaku pada leher, kesulitan menelan, kaku otot perut, berkeringat dan demam.

ü Pada bayi terdapat juga gejala berhenti menetek ( sucking ) antara 3 sampai 28 hari setelah lahir. Gejala berikutnya adalah kejang yang hebat dan tubuh menjadi kaku.

ü Komplikasi tetanus adalah patah tulang akibat kejang, pneumonia dan infeksi lain yang dapat menimbulkan kematian.

Ø Campak

ü Penyakit yang disebabkan oleh virus Myxovirus viridae measles.

ü Penularan melalui udara sewaktu yang berasal dari droplet bersin atau batuk dari penderita.

ü Gejala awal penyakit adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek, conjunctivitis ( mata merah ). Selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh dan tangan serta kaki.

ü Komplikasi campak adalah diare hebat, peradangan pada telinga dan infeksi saluran napas ( pneumonia ).

Ø Poliomyelitis

ü Penyakit pada susunan syaraf pusat yang disebabkan leh satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu virus polio type 1, 2 atau 3.

ü Secara klinis penyakit Polio mudah dipantau pada anak usia kurang dari 15 tahun yang menderita lumpuh layuh mendadak, walaupun tidak semua lumpuh layuh disebabkan oleh virus Polio.

ü Penularan penyakit melalui kotoran / tinja yang terkontaminasi oleh virus.

ü Kelumpuhan diawali dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernapasan terinfeksi dan tidak segera ditangani.

Ø Surveilans PD3I dilakukan dengan memantau kasus-kasus yang terjadi di masyarakat melalui pencatatan dan pelaporan yang dikerjakan di puskesmas dan rumah sakit. Trend perkembangan setiap penyakit menjadi dasar informasi apakah suatu kasus berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa yang dapat menimbulkan kematian pada penderita.

c. Penyakit Tidak Menular Terpilih

Ø Diabetes melitus

ü Merupakan suatu penyakit menahun yang ditandai oleh kadar glukosa darah melebihi normal. Nilai normal gula darah sewaktu adalah <200mg/dL dan atau gula darah puasa <126 mg/dL.

ü Apabila dibiarkan dan tidak dikendalikan penyakit ini menimbulkan penyulit-penyulit yang dapat berakibat fatal termasuk penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan dan gangren.

ü Diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang akan diderita seumur hidup. Obat hanya merupakan salah satu upaya pengendali agar tidak memunculkan penyulit.

ü Gejala klinis :

a. Gejala klasik berupa sering kencing, cepat lapar, sering haus, berat badan menurun cepat tanpa sebab yang jelas.

b. Keluhan lain misalnya lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, disfungsi ereksi, gatal di sekitar kemaluan, keputihan, bisul yang hilang timbul dan mudah mengantuk

Ø Kanker Leher Rahim

ü Keganasan yang terjadi pada leher rahim ( serviks ) yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang senggama ( vagina ).

ü Gejala pada pra kanker biasanya berupa keputihan yang tidak khas atau perdarahan yang hilang dengan sendirinya.

ü Gejala pada tahap selanjutnya berupa keputihan atau keluar cairan encer dari vagina yang berbau, perdarahan diluar siklus haid, perdarahan sesudah senggama, timbul kembali haid setelah menopause, nyeri daerah panggul dan gangguan buang air kecil.

ü Pemeriksaan untuk menilai penyebaran kanker dilakukan secara fisik dan ginekologis.

ü Faktor resiko terkena kanker leher rahim :

a. Menikah / memulai aktivitas seksual pada usia muda ( < 18 tahun ).

b. Berganti-ganti pasangan seksual.

c. Berhubungan seks dengan lelaki yang sering berganti pasangan.

d. Riwayat infeksi di daerah kelamin atau daerah panggul.

e. Perempuan melahirkan banyak anak.

f. Perempuan perokok aktif ( resiko 2,5 kali lebih besar ), perokok pasif ( resiko 1,4 kali lebih besar ).

Ø Kanker Payudara

ü Keganasan yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara.

ü Gejala yang paling sering adalah benjolan pada payudara yang dapat menimbulkan keluhan antara lain : sakit, nipple discharge ( keluarnya cairan dari puting susu berupa cairan encer, nanah, darah atau pus ), nipple retraksi ( puting susu tertarik ke dalam ), kelainan kulit seperti lesung pipi, penampakan seperti kulit jeruk, perubahan warna kulit, perubahan warna dan besarnya payudara, benjolan di ketiak, edema lengan.

ü Pemeriksaan dilakukan secara fisik dengan memeriksa kedua belah payudara dan pemeriksaan penunjang dengan USG, mammografi dan needle biopsi.

ü Faktor resiko :

a. Faktor yang dapat diubah antara lain : riwayat kehamilan, riwayat menyusui, oral kontrasepsi, hormonal replacement, alkohol, obesitas dan trauma.

b. Faktor yang tidak dapat diubah antara lain : riwayat keluarga yang menderita kanker, genetik, status menstruasi (menarche dan menopause), riwayat tumor jinak dan kanker sebelumnya, tidak menikah, tidak pernah melahirkan anak.

Ø Kanker Paru

ü Semua penyakit keganasan di paru, mencakup keganasan yang berasal dari paru sendiri (primer) dan metastasis tumor di paru.

ü Gejala yaitu batuk tanpa dahak ( dahak putih, dapat juga purulen ) lebih dari 3 minggu, batuk darah, sesak napas, nyeri dada yang persisten, sulit menelan, benjolan di pangkal leher, sembab muka dan leher kadang sembab lengan dengan rasa nyeri yang hebat.

ü Faktor resiko : laki-laki, usia lebih dari 40 tahun, perokok, tinggal di lingkungan yang mengandung zat karsinogen atau polusi, paparan industri / lingkungan kerja tertentu, perempuan perokok pasif, riwayat pernah mendapat kanker organ lain atau anggota keluarga dekat ada yang menderita kanker paru.

Ø Leukimia

ü Penyakit keganasan sel darah yang (dianggap) berasal dari sumsum tulang.

ü Gejala yang sering dikeluhkan adalah pucat, lemah, rewel, nafsu makan menurun. Terdapat tanda-tanda perdarahan kulit seperti petekie, hematom atau perdarahan spontan seperti epistaksis dan perdarahan gusi. Demam yang naik turun kadang disertai infeksi yang hilang timbul, sebagai akibat fungsi leukosit yang tidak normal penderita akan lebih rentan terhadap infeksi, baik infeksi oleh bakteri, virus maupun jamur.

ü Faktor resiko pada leukimia yang saling mempengaruhi antara lain :

1) Faktor genetik, antara lain Pada penderita down syndrome dan myelodisplasia.

2) Faktor lingkungan, antara lain radiasi, bahan kimia, obat-obatan.

3) Faktor prenatal dan postnatal, seperti penyakit ginjal pada ibu, ibu hamil yang mengkonsumsi alkohol, ibu hamil hipertensi, asfiksia, berat badan >4500 gram.

4) Faktor infeksi virus dan atau bakateri.

Ø Retinoblastoma

ü Tumor ganas di dalam bola mata yang berkembang dari sel retina primitif dan merupakan tumor ganas primer.

ü Gejala dan tanda retinoblastoma yang dapat ditemukan adalah : kekokoria/white pupil, cat’s eye, mata juling, mata merah,gejala peradangan mata, mata buram, dan pada stadium lanjut proptosis/bola mata menjadi menonjol.

ü Yang diduga sebagai faktor resiko adalah gen supresor RB1.

Ø Jantung koroner

ü Penyakit pada jantung karena adanya kelainan pada pembuluh koroner ( yaitu sepasang pembuluh nadi cabang pertama dari aorta yang mengantarkan zat-zat makanan yang dibutuhkan bagi jaringan dinding jantung ). Kelainan berupa penyempitan pembuluh darah sebagai akibat proses atherosclerosis ( pengerasan dinding pembuluh darah karena penimbunan lemak yang berlebihan ).

ü Gejala : rasa nyeri di dada ( angina pectoris ), dada terasa seperti tertekan oleh beban berat terutama pada daerah jantung, infark miocard akut, payah jantung.

ü Faktor resiko : hipertensi, banyakmerokok, kolesterol / kadar lemak dalam darah lebih dari normal, berat badan berlebih, tekanan jiwa ( stres ), diabetes melitus, kurangnya aktivitas fisik.

Ø Hipertensi

ü Suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal, yaitu tekanan darah sistolik ≤120mmHg dan atau tekanan darah diatolik ≤80 mmHg.

ü Merupakan faktor resiko ketiga terbesar yang menyebabkan kematian dini, yang diakibatkan karena gagal jantung kongetif serta cerebrovasculer, yang memunculkan faktor resiko yang dapat meningkatkan angka kesakitan pembuluh darah.

Ø Surveilans penyakit tidak menular dilakukan seiring dengan adanya kecenderungan berubahnya gaya hidup akibat modernisasi dan globalisasi, dimana kasus-kasus penyakit pembuluh darah dan penyakit degeneratif lainnya dapat menyerang berbagai kelompok umur, sosial dan ekonomi yang dapat menyebabkan timbulnya masalah kesehatan, dengan harapan dapat dikembangkan program promosi dan pencegahan serta untuk keperluan perencanaan pelayanan kesehatan di masa yang akan datang.

d. Kesehatan Matra

Ø Pemeriksaan Kesehatan Jamaah Calon Haji

ü Dilaksanakan dalam tiga tahap pemeriksaan :

a. Tahap 1 di puskesmas, meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan laboratorium sederhana ( golongan darah, tes kehamilan ), bimbingan dan konseling agar JCH perempuan mau menunda kehamilan sampai dengan pulang dari ibadah di tanah suci yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterai di puskesmas.

b. Tahap II di kabupaten dilaksanakan di rumah sakit type C, meliputi pemeriksaan fisik, vaksinasi Meningitis untuk mencegah dari penyakit radang otak, tes kehamilan, dan tes laboratorium sesuai faktor resiko masing-masing jamaah yang sudah didiagnose oleh dokter pemeriksa, serta tes jantung ( EKG ) dan rontgen bagi JCH usia > 40 tahun sesuai Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1394/Menkes/SK/XI/2002.

c. Tahap III dilakukan di embarkasi, untuk skrening akhir status kesehatan JCH sebelum berangkat ke tanah suci. Pada tahap ini jika ditemui JCH hamil atau menderita sakit berat maupun penyakit menular yang berdasarkan undang-undang wabah tidak diperkenankan berangkat, maka akan dikembalikan ke wilayah asal.

d. Semua jamaah calon haji agar menepati hal-hal yang disyaratkan di dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1394/Menkes/SK/XI/2002 untuk menjamin kelancaran keberangkatan ibadah haji.

ü Vaksinasi Meningitis sifatnya wajib, karena merupakan syarat mendapatkan sertifikat yang diharuskan oleh Pemerintah Saudi Arabia bagi semua orang yang akan memasuki wilayah negaranya.

ü Sepulangnya jamaah haji dari tanah suci, akan dilakukan pemantauan oleh petugas puskesmas ke rumah masing-masing jamaah, untuk skrening apakah terdapat jamaah yang menderita sakit, khususnya yang mempunyai gejala panas badan tinggi, kaku otot kuduk dan lemah. Hal ini seagai antisipasi adanya kasus Meningitis.

Ø Pemantauan penyakit pada Calon Transmigran

ü Pemeriksaan calon transmigran dilakukan oleh puskesmas. Pembinaan dilakukan oleh program pelayanan kesehatan dasar.

ü Pemantauan penyakit pada calon transmigran dilakukan oleh program surveilans untuk antisipasi kasus-kasus penyakit menular atau kasus yan berpotensi menimbulkan wabah atau kasus yang memerlukan karantina untuk mencegah penularan.

TUJUAN PROGRAM SURVEILANS :

Menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacadan akibat penyakit menular serta meminimalkan masalah kesehatan masyarakat yang diakibatkan oleh penyakit tidak menular lainnya.

DAFTAR PUSTAKA :

Departemen Kesehatan RI, 2004, Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa ( pedoman epidemiologi penyakit )

Unicef bekerjasama dengan Departemen Kesehatan RI, 2005, Pelatihan Safety Injection.

Departemen Kesehatan RI, 2005, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1394/Menkes/SK/XI/2002 Tentang Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji di Indonesia.

Departemen Kesehatan RI, 2006, Modul Pelatihan Surveilans Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.

Departemen Kesehatan RI, 2007, Revisi Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa ( pedoman epidemiologi penyakit ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: